Melakukan sebuah kesalahan terkadang memiliki manfaat bagi kita sendiri. Bahkan, banyakentrepreneur yang menjadi sukses setelah melakukan suatu kesalahan yang terkadang tidak disadarinya selama ini. Dengan kesalahannya tersebut, entrepreneur menyadari bahwa memang usahanya tidak selalu sempurna, dan dengan begitu semangat untuk selalu berkembang (memperbaiki dan berinovasi) akan terus terjaga sehingga pada akhirnya membuahkan hasil bagi usahanya tersebut.
Kesalahan tidaklah selalu merupakan suatu hal yang besar dan berpengaruh tinggi terhadap jalannya usaha tersebut, tetapi juga kesalahan-kesalahan kecil yang mendasar, sehingga dapat terjadi tanpa kita sadari bahwa itu adalah kesalahan. Terkadang sebuah kesalahan kecil tersebut, karena sepele-sepele saja seringkali tidak disadari oleh entrepreneur sehingga dapat menjadi berbahaya bagi usahanya.
Studi Kasus
Cerita ini saya dengar dituturkan oleh dosen saya yang merupakan seorang konsultan manajemen dan industri kreatif ketika saya masih duduk di bangku mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen di Bandung. Beliau menceritakan tentang pengalamannya dalam memberikan konsultasi ke sebuahdistro/clothing line ternama di Bandung bahkan di Indonesia (namanya tidak bisa saya sebutkan). Dalam ceritanya tersebut, sang pemilik usaha mengeluhkan mengapa distronya sekarang performanya tidak seperti dahulu lagi, ketika dirinya termasuk pioneer dalam bidang usaha ini. Memang unsur makin banyaknya pesaing yang terinspirasi dari kisah sukses mereka sedikit banyak memakan bagian dari market share yang ada, dan juga ada beberapa faktor yang unik menurut dosen saya ini yang mempengaruhinya. Kedua hal tersebut, waktu saya dengar adalah suatu hal yang sangat sepele tapi ternyata menghadirkan efek yang sangat besar. Kedua hal tersebut adalah :
1. Banyaknya Orang Nongkrong di Depan Distro
Kita biasanya menganggap bahwa makin banyak orang nongkrong di sekitar distro kita adalah suatu yang keren dan bermanfaat bagi kita. Apalagi distro adalah suatu usaha yang memperlihatkan tentang gaya hidup dan terlihat “gaul”. Ternyata, anggapan tersebut tidaklah tepat bagi usaha ini. Dengan banyaknya orang nongkrong di sekitar distro tersebut, banyak calon konsumen secara psikologis merasa risih dan kurang pede untuk masuk ke dalam distro karena harus melewati orang-orang yang nongkrong tersebut. Dengan merasa sedikit terintimidasi karena merasa kurang “gaul” dan kurang “modis” membuat orang seringkali mengurungkan niatnya untuk mampir ke distro tersebut.
2. Sang Penjaga Toko Ternyata Terlalu Modis
Sebagai pemilik distro tentu saja terbersit pemikiran bahwa orang-orang yang bekerja di distro tersebut, adalah orang-orang yang mewakili brand miliknya sehingga ingin terlihat modis dan trendy. Hal ini membuat para konsumen terintimidasi karena merasa kalah “modis” dan “fashionable”. Di samping itu, para konsumen merasa bingung ketika harus meminta bantuan karena mereka menjadi takut untuk memanggil karena takut salah memanggil pengunjung alih-alih penjaga toko. Tentu saja ini akan mempengaruhi tingkat kepuasan sang konsumen akan service yang diberikan oleh distro tersebut.
Ketika kedua hal tersebut diperbaiki dengan cara memberikan pengertian terhadap yang nongkrong dan memberikan seragam kepada penjaga toko, distro tersebut makin kuat penjualannya karena peningkatan pengunjung yang cukup signifikan.
Hal-hal kecil seperti inilah yang sering kita abaikan atau lepas dari pengawasan kita karena dianggap tidak akan berpengaruh banyak, jika dilihat dari skala kepentingannya. Akan tetapi, dari cerita diatas terbukti bahwa hal-hal tersebut ternyata berefek cukup besar dalam jangka panjang dan ternyata mempengaruhi kinerja dari usaha tersebut. Banyak hal yang sering kita lakukan seperti over hard-seliing di lingkungan teman sehingga teman pun malas dekat-dekat dengan anda karena bosan, atau memberikan janji yang terlalu tinggi tapi tidak sesuai dengan apa yang diberikan, mungkin juga melepaskan tanggungjawab ketika barang rusak pada waktu pengiriman sehingga merasa tidak dalam lingkup tanggungjawabnya.
Satu hal yang perlu disadari oleh para entrepreneur adalah konsumen itu memiliki kuasa yang lebih besar. Jika kita dapat memanage para konsumen sehingga dapat memberikan timbal balik yang dapat menjadikan usaha sang entrepreneur menjadi lebih besar pada akhirnya. Karena begitulah sebuah konsep usaha yang sustainable (berkelanjutan) yaitu dapat mengakomodasikan kepentingan dan keperluan dari setiap pihak yang terlibat.







0 komentar:
Posting Komentar